Cara Menghindari Imbas Kekerasan Di Televisi Pada Anak

Cara Menghindari Dampak Kekerasan Di Televisi Pada Anak Cara Menghindari Dampak Kekerasan Di Televisi Pada Anak

– Sebagai mana kita ketahui, tayangan kekerasan di televisi (TV) maupun dari media elektronik semacamnya cukup banyak ditayangkan, mulai dari iklan hingga tayangan yang biasanya mempunyai durasi tayang yang cukup lama, menyerupai sinetron maupun film. Biasanya anak sering kali mengisi waktu dengan menonton televisi. Namun sering kali, anak tanpa sengaja melihat tayangan-tayangan kekerasan yang sedang disiarkan di televisi. Sedangkan dampak dari kekerasan di televisi terhadap sang anak memang sanggup mengakibatkan dampak psikologis negatif yang sering kali meresahkan orang tua. Bahkan, budaya dan kebiasaan untuk menonton televisi seharian di waktu libur atau jam-jam yang kosong sudah menjadi aktivitas. Oleh karenanya, orang bau tanah perlu mengambil solusi atas permasalahan yang satu ini, salah satunya ialah dengan cara memberi pengertian yang sanggup menarik simpati, maka kemungkinan anak sanggup lebih memahami dengan apa yang dinasihati orang tuanya.

Berusahalah terlebih dahulu untuk menarik simpati mereka. Jangan asal marah-marah, misalnya, “Tiap hari nonton televisi saja! Itu cuma bohong tahu. Sudah matikan televisinya dan tidur!”. Jika hal ini dilakukan setiap saat, maka kemungkinan anak bukannya semakin patuh, tetapi malah berani melawan, minimal menjawab terus setiap kata-kata orang tuanya. Tentu saja, hal menyerupai ini bukanlah yang kita inginkan, bukan? Oleh alasannya ialah itu, ada baiknya dicoba upaya berikut dan alangkah baiknya jikalau diubahsuaikan dengan budaya setempat.

Usaha-usaha dalam mencegah dampak kekerasan tanggapan tontonan di televisi

1. Batasi kegiatan menonton televisi


Dengan membatasi kegiatan menonton televisi, orang bau tanah akan segera menemukan bahwa membatasi waktu menonton televisi belum dewasa setiap harinya ialah tindakan yang bijaksana dan tepat.

2. Evaluasi program televisi


Lakukanlah penilaian (penilaian) terhadap semua program yang ditonton oleh anak. Kemudian, buat dan pilih metode efektif dalam mengurangi reaksi negatif anak terhadap kekerasan di televisi. Salah satu teladan tindakannya ialah dengan mendampingi belum dewasa dikala menonton program televisi. Upaya ini cukup efektif untuk dilakukan oleh para orang tua. Misalnya, program di televisi sedang menampilkan film seri yang bercerita perihal persekutuan obat bius. Pada dikala itu adegannya terlalu brutal. Polisi menendang pintu, memporak-porandakan perabot, dan terjadi baku tembak antara polisi dengan penyalur obat bius tersebut yang tidak mau ditangkap. Ketika itu ajak sang anak untuk menonton program yang lebih baik dan berikan alasan dengan cara yang lembut, menyerupai “Ibu tidak tega melihat orang disakiti, kan masih ada program yang lebih baik.”.

3. Ajarkan daya kritis


Ajarkan kemampuan kepada sang anak untuk menonton televisi secara kritis. Misalnya, ketika orang bau tanah mendampingi anaknya menonton televisi dan melihat program kekerasan di televisi, segera ingatkan anak. “Tokoh-tokoh dalam televisi itu hanya akal-akalan memukul orang. Jadi, tidak menciptakan mereka sakit sama sekali. Ini menyerupai kau memainkan adegan sandiwara di sekolah. Tapi, jikalau orang yang sungguhan itu memukul orang lain, maka akan terasa sakit dan dihentikan dilakukan.”. Penjelasan dan pengertian yang diberikan orang bau tanah akan menciptakan sang anak sanggup memahami bahwa adegan kekerasan ataupun agresi di televisi itu tidak nyata.

4. Jelaskan perbedaan antara fantasi dan realitas


Anak-anak ialah langsung yang masih polos daya imajinasinya. Sehingga, alasannya ialah imajinasi yang polos inilah, belum dewasa cenderung mendapat persoalan tanggapan terlalu sering menonton kekerasan di televisi dalam karakter-karakter kartun. Dan, persentase tayangan film-film kartun di televisi kian hari kian bertambah alasannya ialah sangat diminati anak-anak. Bahkan, sampaumur pun masih banyak yang suka, sehingga kadang mengakibatkan obsesi yang berlebihan.

Saat menonton film kartun-kartun tersebut, coba tanyakan kepada belum dewasa sebagai pembuka perbincangan untuk membedakan apakah film dan adegan di dalamnya itu sungguhan atau hanya fantasi. Misalnya, dengan pertanyaan, “Apakah jikalau terjadi perampokan di sekitar sekolah atau rumah kita, Batman akan tiba untuk menolong?”. Jika anak gundah dan jawabannya mengada-ada, coba jelaskan realitasnya! Misalnya, “Kartun ialah sebuah film buatan insan yang jikalau dipukul tidak akan merasa sakit. Kamu tentu bisa melihat, bila si Batman ditabrak kendaraan beroda empat dan ditembaki, ia tidak kesakitan, kan? Buktinya, besok ia main lagi di televisi. Apa yang dilakukan tokoh-tokoh di film kartun itu jangan hingga ditiru! Semua adegan agresi film itu hanya rekaan (buatan), dihentikan ditiru. Jadi, kau harus bisa menghindarinya.”.

Nah, itulah artikel tentang “Cara Menghindari Dampak Kekerasan Di Televisi Pada Anak”. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, mohon maaf. Jika ada kritik, saran maupun hal-hal lainnya, bisa menghubungi Admin di sajian yang telah tersedia 🙂 Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membawa efek yang baik.

“Gambar dan isi goresan pena di dalam postingan ini diambil dan diperbaharui dari banyak sekali sumber, mohon maaf apabila terdapat kesalahan, baik itu maksud dari isi postingan ini atau kesalahan apapun. Bijaklah dan selalu mencar ilmu untuk mengambil sisi positifnya ya sob!”

Kata kunci terkait pada artikel ini:
Solusi dari imbas kekerasan di televisi terhadap sang anak